Dunia pariwisata internasional sedang diguncang oleh sebuah video dokumenter amatir yang viral di TikTok dan Instagram. Video yang diambil menggunakan drone bawah air tersebut memperlihatkan tumpukan sampah plastik yang menggunung di balik keindahan terumbu karang sebuah pulau destinasi impian. Hal ini memicu kemarahan netizen global karena pulau tersebut selama ini dicitrakan sebagai surga tersembunyi yang “bersih dan asri”. Fenomena ini langsung melahirkan gerakan #TravelWithEthics yang menuntut transparansi pengelolaan limbah di setiap lokasi wisata populer.
Sebagai respons, banyak komunitas traveler mulai menerapkan sistem “Audit Sampah Mandiri”. Para turis kini tidak hanya mengunggah foto estetis, tetapi juga mendokumentasikan bagaimana fasilitas hotel dan pemandu wisata mengelola sampah mereka. Jika ditemukan ketidaksesuaian, netizen tidak segan-segan memberikan ulasan buruk secara massal yang berdampak pada anjloknya rating destinasi tersebut di platform booking internasional. Di tahun 2026 ini, status “Eco-Certified” menjadi syarat mutlak bagi sebuah tempat wisata jika ingin tetap dikunjungi oleh wisatawan generasi baru.
Di sisi lain, beberapa negara mulai menerapkan kebijakan “Pajak Sampah Wisatawan” yang cukup tinggi di gerbang masuk. Uang tersebut digunakan khusus untuk mendanai robot pembersih pantai otomatis berbasis AI. Meskipun kebijakan ini sempat menuai protes karena harga tiket wisata jadi lebih mahal, banyak pihak yang setuju bahwa ini adalah harga yang pantas untuk membayar kerusakan lingkungan yang telah terjadi. Tren travel tahun ini pun bergeser; bukan lagi tentang siapa yang paling jauh melangkah, tapi siapa yang paling sedikit meninggalkan jejak karbon dan sampah di tempat yang mereka kunjungi.









