Tahun 2026 menjadi saksi runtuhnya dominasi ponsel genggam setelah perangkat kacamata pintar (Smart-Glasses) generasi terbaru resmi menjadi tren gaya hidup massal. Perangkat ini menjadi viral karena mampu memindahkan seluruh fungsi media sosial, mulai dari membalas pesan WhatsApp hingga menonton live streaming, langsung ke bidang pandang pengguna melalui proyeksi laser transparan. Fenomena ini meledak di media sosial setelah rekaman “POV” (Point of View) para pengguna kacamata ini memperlihatkan bagaimana mereka bisa melihat navigasi jalan dan profil media sosial orang yang sedang diajak bicara secara real-time.
Netizen di seluruh dunia, termasuk Indonesia, ramai-ramai membagikan pengalaman mereka “hidup dalam dua dunia”. Di satu sisi, teknologi ini dipuji karena membuat komunikasi menjadi sangat instan tanpa perlu menunduk menatap layar. Namun, di sisi lain, hal ini memicu debat panas mengenai etika privasi, karena kacamata ini dilengkapi kamera AI yang hampir tak terlihat. Para pakar teknologi menyebutkan bahwa era “Scrolling” telah berakhir dan berganti menjadi era “Glancing” (melirik), di mana informasi mengalir secara konstan dalam aktivitas fisik sehari-hari, menciptakan cara baru dalam bersosialisasi yang sepenuhnya berbasis teknologi Augmented Reality (AR).
Sumber :
- Laporan Global Tech-Gadget Review 2026
- Analisis Perilaku Digital dari Silicon Valley Insight
- Pantauan Viralitas Hashtag #BeyondSmartphone di Platform X
– Dokumentasi Inovasi Wearable Tech dari CES 2026







