Dunia pariwisata internasional sedang dihebohkan dengan kebijakan ekonomi baru yang menghubungkan jejak karbon individu dengan harga tiket perjalanan. Berita ini viral setelah sebuah maskapai penerbangan global merilis sistem “Dynamic Pricing” berbasis emisi, di mana wisatawan yang terbukti memiliki gaya hidup ramah lingkungan—seperti jarang menggunakan kendaraan pribadi atau sering mendaur ulang—mendapatkan potongan harga tiket yang sangat signifikan. Sebaliknya, pelancong dengan jejak karbon tinggi harus membayar “Pajak Emisi” tambahan yang membuat biaya liburan mereka melambung tinggi.
Fenomena ini memicu perdebatan sengit di media sosial antara kelompok pendukung lingkungan dan mereka yang merasa privasi konsumsinya terganggu. Namun, secara ekonomi, kebijakan ini berhasil mendorong pertumbuhan industri hotel ramah lingkungan (Eco-Resort) yang kini penuh dipesan oleh para pelancong yang ingin memperbaiki skor paspor karbon mereka. Para pakar ekonomi travel menyebutkan bahwa di tahun 2026, “Karbon” telah menjadi mata uang baru dalam industri pariwisata, di mana efisiensi energi bukan lagi sekadar pilihan moral, melainkan kebutuhan finansial agar tetap bisa berkeliling dunia dengan anggaran terbatas.
Sumber :
- Laporan Global Travel Economy Outlook 2026
- Analisis Kebijakan Emisi Maskapai Internasional (IATA Update)
- Pantauan Viralitas Hashtag #CarbonPassport di Platform X dan TikTok
– Dokumentasi Inovasi Ekonomi Hijau World Economic Forum







