Dunia pariwisata internasional mengalami transformasi radikal di awal tahun 2026. Beberapa destinasi unggulan di dunia, mulai dari Maladewa, pegunungan Alpen di Swiss, hingga beberapa kawasan konservasi di Indonesia, resmi menerapkan kebijakan ‘Hard-Zero Plastic’. Kebijakan ini mewajibkan setiap wisatawan untuk melalui pemeriksaan ketat di pintu masuk bandara atau dermaga guna memastikan tidak ada sampah plastik sekali pakai yang terbawa ke lokasi wisata. Berita ini viral setelah seorang influencer travel menunjukkan proses pemeriksaan tasnya yang harus bersih dari botol minum plastik dan kemasan saset.
Fenomena ini memicu perdebatan seru di media sosial. Banyak netizen mendukung langkah ini sebagai solusi nyata untuk menyelamatkan ekosistem yang rusak akibat ‘over-tourism’ selama bertahun-tahun. Namun, sebagian traveler mengeluhkan kerumitan logistik dan mahalnya harga produk pengganti yang ramah lingkungan di lokasi wisata. Meskipun demikian, tren ‘Eco-Travel’ justru melonjak tajam; banyak milenial dan Gen Z yang kini lebih bangga memamerkan foto liburan di tempat yang bersih dan berkelanjutan daripada destinasi mewah yang kotor.
Di Indonesia, Bali dan Labuan Bajo dikabarkan menjadi pionir dalam penerapan sistem “Passport Sampah Digital”. Melalui aplikasi ini, turis yang kedapatan membuang sampah sembarangan akan dikenakan denda otomatis yang terhubung dengan kartu kredit atau dompet digital mereka, bahkan bisa mendapatkan ‘red flag’ untuk kunjungan berikutnya. Pakar lingkungan menyebutkan bahwa kesadaran kolektif ini adalah respons atas krisis sampah plastik laut yang mencapai puncaknya tahun lalu. Sekarang, para pengelola travel agent mulai berlomba-lomba menawarkan paket “Volunteer-Vacation”, di mana turis bisa mendapatkan diskon menginap jika ikut serta dalam aksi pembersihan pantai atau penanaman koral selama liburan mereka.









